Rabu, 18 April 2012

Puisi


_Tanah bernanah_


Rintihan para fakir dianggap semu,,
Luka berbau busuk laksana kumpulan bangkai yg terkutuk,,
Tangisan-tangisan darah hangatkan dahaga mereka,,
entah "mereka" bisu atau dungu...
lisan yang terucap begitu manis seperti kecap,,
sikap elegan bagai juragan atau bajingan???
mencari sesuap nasi dalam diskriminasi,,
titik punah bangsa semakin besar terasa...
Seteguk darah kembali segarkan dahaga “mereka”,,
sikut menyikut yg tak mau ikut,,
sambil terbahak di tengah tangisan fakir,,
ciptakan luasnya tanah bermandikan nanah...
 

Puisi


_Jauh_

Goresan luka itu semakin mendalam
Tetesan-tetesan nanah hiasi peluhnya jasad
Timbul borok-borok kecil berbau busuk
Bau yang terbuat dari kata-kata kemunafikkan dan harapan kosong
Begitu indahkah hingga semua tak terjamah?
Imajinasi layaknya ilusi basi
Luka, lagi-lagi luka atau aku tak pernah peka??
Denting waktu tangisi dirinya sendiri
Kenapa ia berdiri yang membuatnya dikebiri??
Kenapa ia berada ditempat pemilik gada??
Dan kenapa ia membuat tambak jika membuat dirinya tertembak???
Niatnya mencari rusuk,, yang terjadi kembali tertusuk-tusuk
Aku bagai paku yang selalu kaku walau dihantam jutaan kali palu
Tak jauh seperti pintu,, yang dibuka lalu ditutup rapat dan dibiarkan berkarat
Mengejar sinar yang berpijar buatku tersesat dan terdampar
Jauh,, jauh,, jauh!!!

Puisi


_ Teriakan Sajak_

Deru angin bertiup temani langkah-langkah telapak yang kian rusak..
Tangan-tangan halus mereka kapalan demi hasilkan lembaran rejeki..
Peluhnya jasad tak guna tuk mengeluh atas pengharapan yang diidamkan..
Butir-butir keringat terasa begitu hangat saat sang surya mulai berikan senyum yang menyengat..
Tapi, apalah daya tubuh lusuh mereka..
Jika harus sakit maka harus bangkit!
Jika harus lelah maka harus terjamah!!
Namun, jika harus mati maka harus obati “duka laranya” dengan senyum dari lubuk hati..
Kulit-kulit mengkerut ditelan waktu tak mampu bersembunyi dalam keramaian..
Ah, lagi-lagi jasad tak sadar dan peka dalam tumpukan dosa yang selimuti hangatnya tubuh busuk ini..
Begitu semangat jejak-jejak mereka hanya tuk melihat senyum yang merekah dari tubuh pendosa ini..
“Tanpa meminta mereka memberi”
“Mereka memberi tanpa meminta kembali”
Tubuh pendosa tetap angkuh seakan semua impian dalam benaknya mudah direngkuh..
Hinakah yang diperbuatnya??
Benarkah itu bagian dari keluh kesahnya??
Bola-bola mata mereka mulai rabun, namun tersembunyi impian dan harapan di balik pelupuk matanya yang nanar agar tetap tegar dan bersinar..
Sungguh hebat tubuh renta mereka, karena sanggup mengemban beban dari para pemilik tubuh pendosa yang berbau busuk layaknya ceceran bangkai....