Rabu, 18 April 2012

Puisi


_ Teriakan Sajak_

Deru angin bertiup temani langkah-langkah telapak yang kian rusak..
Tangan-tangan halus mereka kapalan demi hasilkan lembaran rejeki..
Peluhnya jasad tak guna tuk mengeluh atas pengharapan yang diidamkan..
Butir-butir keringat terasa begitu hangat saat sang surya mulai berikan senyum yang menyengat..
Tapi, apalah daya tubuh lusuh mereka..
Jika harus sakit maka harus bangkit!
Jika harus lelah maka harus terjamah!!
Namun, jika harus mati maka harus obati “duka laranya” dengan senyum dari lubuk hati..
Kulit-kulit mengkerut ditelan waktu tak mampu bersembunyi dalam keramaian..
Ah, lagi-lagi jasad tak sadar dan peka dalam tumpukan dosa yang selimuti hangatnya tubuh busuk ini..
Begitu semangat jejak-jejak mereka hanya tuk melihat senyum yang merekah dari tubuh pendosa ini..
“Tanpa meminta mereka memberi”
“Mereka memberi tanpa meminta kembali”
Tubuh pendosa tetap angkuh seakan semua impian dalam benaknya mudah direngkuh..
Hinakah yang diperbuatnya??
Benarkah itu bagian dari keluh kesahnya??
Bola-bola mata mereka mulai rabun, namun tersembunyi impian dan harapan di balik pelupuk matanya yang nanar agar tetap tegar dan bersinar..
Sungguh hebat tubuh renta mereka, karena sanggup mengemban beban dari para pemilik tubuh pendosa yang berbau busuk layaknya ceceran bangkai....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar