Rabu, 18 April 2012

Puisi


_Tanah bernanah_


Rintihan para fakir dianggap semu,,
Luka berbau busuk laksana kumpulan bangkai yg terkutuk,,
Tangisan-tangisan darah hangatkan dahaga mereka,,
entah "mereka" bisu atau dungu...
lisan yang terucap begitu manis seperti kecap,,
sikap elegan bagai juragan atau bajingan???
mencari sesuap nasi dalam diskriminasi,,
titik punah bangsa semakin besar terasa...
Seteguk darah kembali segarkan dahaga “mereka”,,
sikut menyikut yg tak mau ikut,,
sambil terbahak di tengah tangisan fakir,,
ciptakan luasnya tanah bermandikan nanah...
 

1 komentar: