Rabu, 01 Juni 2011

cerpen ke 2



Maafkanku,, ‘Ibu’
Pagi yang cerah menyadarkanku dari tidur panjang yang lelap serta kicauan burung mewarnai indahya pagi di mana aku tinggal saat ini. Tak lama terdengar suara seorang wanita yang memanggilku dengan merdu untuk bangun dari singgasanaku. Dialah seorang wanita yang paling sempurna dan paling mengerti keluh kesahku disaat aku berada dalam kebimbangan yang biasa kupanggil akrab dan sayang dengan sebutan ‘ibu’.
“ari, ari ayo cepat bangun sholat subuh nak” dengan nada yang lembut
“iya bu ini juga ari sudah bangun kok” jawabnya
“cepat sedikit ya malu tuh sama ayam”
“iya ibu”
Akupun beranjak keluar untuk melaksanakan kewajibanku sebagai seorang muslim pada umumnya yaitu melaksnakan sholat subuh. Walaupun tubuh ini rasanya masih lemas dan matapun masih terasa berat untuk memandang keadaan sekitar, tapi ya namanya kewajiban harus tetap di jalankan, kan???. Saat menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu aku melihat ibu sedang menyiapkan sarapan untuk aku, ayah, dan kedua adikku. Aku termenung sesaat ‘Memang hebat ibuku yang satu ini’. Aku berusaha menghampirinya dan bertanya padanya.
“ibu??? Sarapan apa kita pagi ini??? hehehe” dengan nada yang cukup mengagetkan
“aduh kamu ini ri, mengagetkan ibu saja. Ini ibu sedang membuat nasi goreng dan telor mata sapi kesukaanmu dan adik-adikmu”
“wah enak nih bu??? Aku coba sedikit ya???” godanya
“hus, sudah sholat dan mandi dulu sana baru makan. Terus siap-siap berangkat sekolah”
“ah, ibu ga asik nih”
Karena gagal untuk mencicipi sarapan yang sedang dibuat ibu, akhirnya akupun pergi kekamar mandi untuk melaksanakan kewajibanku yang sempat tertunda tadi. Setelah selesai mandi dan melaksanakan sholat subuh, dengan cepat aku kembali menghampiri ibu ke dapur untuk melihat sekaligus mencicipi sarapan yang ibu buat. Tapi, apa yang ku jumpai ternyata ibu sudah berada di meja makan bersama ayah dan kedua adikku yang sedang menanti kehadiranku untuk sarapan pagi bersama. Karena kebiasaan keluargaku bila sarapan pagi harus kumpul semua, walaupun harus menunggu kedatangankulah yang paling lama.
“kamu ini ri lama betul mandinya seperti perempuan saja”
“bukan gitu yah, namanya juga anak muda harus tampil bersih dan wangi dong??? Hehehe” tawanya renyah
“iya ayah tahu kamu sedang memasuki masa puber, tapi waktu ayah muda dulu tidak sampai seperti kamu yang mandi berjam-jam dan memakai parfum yang berlebihan.”
“tapi kok ibu mau sih dengan ayah???” tanyanya bingung
“iya, itu karena memang ayah yang paling tampan diantara laki-laki yang mendekati ibumu. Hehehe” jawabnya tertawa lebar
“enak aja si ayah kalo ngomong, siapa bilang ayah yang paling tampan diantara lelaki yang mendekati ibu???” sambung ibu
“lho memang iya kan??? Hehehe”  jawab ayah sambil tertawa
Aku bangga dan bahagia melihat ayah, ibu, dan kedua adik-adiku hidup dengan penuh keceriaan karena belum tentu aku bisa merasakannya jika aku berada dalam keluarga yang berbeda.
Setelah selesai makan aku bermaksud membantu ibu merapikan meja makan, tapi ibu melarangku katanya ‘sudah kamu berangkat saja nanti kesiangan’. akupun tak kuasa membantah kata-katanya karena saat kulihat jam sudah menunjukan pukul 06.00 pagi. Wah gawat pikirku tak terasa waktu berjalan begitu cepatnya, lalu ku bergegas menyalakan sepeda motorku yang dibelikan oleh ayah karena ayah baru  naik gaji dan biar lebih hemat katanya. Lalu aku mulai meninggalkan rumah dan kutancap gas karena sudah siang sekali bagiku, maklum lah namanya juga SMA unggulan jadi sangat disiplin. Tiba di sekolah aku mengikuti pelajaran seperti biasanya hingga jam semua pelajaran berakhir.
Dalam perjalanan pulang aku melihat ayah sedang membonceng seorang wanita yang ternyata bukanlah ibuku, tapi aku tidak langsung berpikiran yang tidak-tidak karena mungkin saja teman kerja ayah di kantor.
“assallamualaikum, ibu aku pulang”
“waalaikusallam” dengan nada yang berat. Yang kuketahui bahwa ibu habis menangis
Aku terdiam seribu tanya mengapa ibu yang kukenal selama ini selalu riang dan ceria kini menangis terisak-isak. Mengapa??? Apa penyebabnya??? Siapa yang membuat ibu menangis???, ingin kuhampiri ibu tapi kuurungkan niatku karena pikirku ibu butuh sendiri dulu untuk menenangkan pikirannya. Tapi tetap saja hal ini mengganggu pikiranku karena tidak pernah sebelumnya ibu menangis hingga seperti ini. Sempat terlintas di benakku mungkinkah karena wanita itu yang menjadi penyebab menangisnya ibu atau ada penyebab lain yang mungkin aku tidak mengetahuinya.

*****
Tiga hari kemudian keadaan rumah seperti biasa, ibu menyiapkan sarapan untuk kami sekeluarga, tapi ada yang berbeda dari sikapnya terutama terhadap ayah. Keadaan ini semakin diperparah saat tidak adanya canda tawa seperti biasa malah terkesan tidak saling kenal diantara kami. Akhirnya aku mempunyai inisiatif untuk membuka perbincangan.
“ibu enak ya kalo setiap hari kita sarapan pake roti, kaya orang-orang kaya gitu bu.hehehe” berharap ada respon
“bersyukur saja ri kita masih bisa sarapan karena masih banyak di luar sana yang tidak dapat untuk sarapan” jawabnya bijak
“ya alhamdulillah ya bu”
“iya nak”
Aku cukup lega ternyata ibu sudah baikkan keadaannya jadi aku bisa lebih tenang jika harus berangkat ke sekolah ataupun pergi bersama teman-temanku. Seperti biasa aku berangkat menuju sekolah  dan tak kusangka ternyata aku kembali melihat ayah dengan wanita yang kemarin diboncengnya. Kali ini aku mengikutinya bahkan hingga bolos sekolah, karena penasaran apakah benar wanita ini salah satu penyebab menangisnya ibu disaat aku pulang sekolah beberapa hari yang lalu. Dan benar saja merekapun masuk kedalam sebuah rumah yang tidak cukup besar jika dibandingkan dengan rumahku. Aku terkejut saat ayah mulai keluar dari rumah itu karena mereka begitu akrab seperti sudah kenal lama saja pikirku, tapi apapun alasannya aku sangat kecewa dengan ayah, karena ayah yang kukagumi sangat sayang kepada ibu ternyata menyimpan wanita lain dalam kehidupannya.
Kejadian itu membuat kepribadianku berubah drastis mulai dari tidak melaksanakan kewajiban seorang muslim hingga kurangnya komunikasi antara aku dan ibu, bahkan saat aku pergi untuk menginap bersama teman-temanku aku tidak pamit apalagi mencium tangannya yang biasa kulakukan sebelum kejadian itu.
“ari, kamu mau kemana nak malam-malam begini???” tanyanya resah
Karena tidak ada jawaban atau sepatah katapun yang keluar dari mulutku, maka ibu kembali bicara dengan nada yang berharap aku kan menjawab pertanyaannya.
“hati-hati ya nak, semoga Allah melindungimu selalu” sambungnya
Kata-kata itulah yang terakhir kali kudengar sebelum aku pergi bersama teman-temanku. Tak tega aku mengacuhkannya, tapi apa boleh buat rasa kesalku terhadap ayah sudah semakin membuncah atas kejadian tadi pagi. Lagi pula aku kan hanya pergi malam ini saja besok pagi juga sudah pulang kembali kerumah.

*****
Pagi-pagi sekali aku pulang kerumah untuk siap-siap berangkat atletik, karena setiap hari minggu diawal bulan sekolahku mengadakan pengambilan nilai atletik yang wajib diikuti oleh semua siswa. Tetapi sesampainya di rumah yang kujumpai adalah berkibarnya bendera kuning dan telah ramainya para tetangga yang mulai berdatangan kerumah. Aku berlari sekuat tenaga untuk mengetahui apa yang terjadi di rumah, ternyata ibuku terbaring kaku dan pucat pada wajahnya.
“i,ibu tidak….” Sambil menangis terisak-isak
“ibu, maafkan ari bu atas sikap ari yang semalam” sambungnya
Tiba-tiba seseorang menepuk pundak dan memelukku dari belakang yang tidak lain dan tidak bukan ialah ayahku, tapi yang membuatku semakin kesal dan muak adalah wanita yang bersama ayah ikut datang juga kerumah.
“pergi kau wanita jalang, kau yang telah membuat ibuku sakit hingga meninggal” ditujukan pada wanita tersebut
“ari diam kau, dia ini adalah teman ayah sekaligus dokter yang mengobati penyakit kanker otak yang selama ini diderita ibumu” dengan nada kesal
“ayah bohong, pasti karena wanita ini ibu menjadi sakit. Ari pernah melihat ayah membonceng wanita ini masuk kedalam sebuah rumah. Iya kan???” sambungnya
“bukan ri, saya ini dokter Rina yang mengobati penyakit ibumu”
“lalu mengapa kalian masuk kedalam rumah pagi itu???” tanyanya penasaran
“oh itu rumah lama saya ri, yang sekarang saya jadikan tempat penyimpanan peralatan pribadi untuk keperluan rumah sakit jika ada pasien darurat yang sedang membutuhkan pertolongan seperti kejadian yang terjadi pada ibumu semalam” Jelasnya
Akupun termenung mendengar penjelasan doter Rina dan tak mampu tuk berkata-kata atas apa yang telah kulakukan pada ibu, hanya air mata yang terurai saat mengetahui kejadian yang sebenarnya. maafkan aku ‘ibu’…



Rahmat Herlikas